cerita-di-balik-super-smash-bros-melee-9
Sumber

Tiga tahun lalu, saya sama sekali tidak tahu apa itu Super Smash Bros. Ada banyak alasan untuk itu, mulai dari malas mencari tahu, sampai ke fakta bahwa game WiiU dan Nintendo 3DS selain Pokemon tidak terlalu populer di Indonesia dan membuat saya tidak begitu semangat mencari tahu. Lalu saya mulai penasaran ketika Beyond The Summit, salah satu studio broadcasting Dota 2 terbesar, mengadakan Smash Summit, turnamen khusus Super Smash Bros.

Karena terlihat unik dan tidak biasa, saya mencoba mencari tahu dan memainkan Super Smash Bros. WiiU. It was fun, dan saya kemudian mulai melihat turnamen yang mempertandingkan game ini. Dari situ, saya baru sadar bahwa Smash Summit mempertandingkan Super Smash Bros. Melee, versi lama dari Super Smash Bros. yang dirilis di tahun 2001 untuk konsol lama Nintendo, yaitu Nintendo GameCube.

Pertanyaan besar mulai muncul: Bagaimana mungkin game yang berusia 15 tahun bisa tetap hidup setelah sekuel dan teknologi baru muncul untuk menggantikannya. Untuk memainkan Melee, kamu harus punya monitor CRT atau TV tabung. Bayangkan berapa banyak TV tabung yang harus dicari oleh penyelenggara EVO 2016, turnamen terbesar game fighting, yang punya lebih dari 2.000 peserta di cabang Melee. Penasaran, saya memutuskan untuk terjun, kembali ke 15 tahun ketika Melee pertama kali muncul.

Setelah menonton banyak video dan membaca berbagai artikel, saya harus akui, Melee is such a beautiful game.

Welcome to Smash

Pada dasarnya, Smash adalah game yang diproyeksikan sebagai party game yang dimainkan bersama teman-teman dan keluarga secara santai. Karena itulah konsep dasar Smash, termasuk Melee, berbeda dari game fighting pada umumnya dan sangat mudah dicerna oleh pemula, alias punya entry barrier yang sangat rendah.

Sebagai pengganti health bar, karakter di Smash punya angka berbentuk persentase yang dimulai dari nol. Angka ini akan naik tiap kamu menerima serangan, dan semakin tinggi angka ini, semakin jauh kamu terlontar tiap kali terkena serangan berikutnya. Kalau kamu terlontar terlalu jauh, kamu akan keluar dari arena, dan lawan mendapat poin dan/atau kamu kehilangan poin. Yup, kamu bertarung bukan untuk membunuh lawan dengan memukulnya sampai menginjak angka 100 persen, tapi untuk mengeluarkannya dari arena. Tergantung situasi, kamu bisa saja masih hidup di 150 persen atau malah mati di 30 persen kalau lawanmu cukup cerdik dan bisa menjatuhkanmu dari arena tanpa bisa kembali.

Sistem input di Smash juga sederhana. Semua gerakan terdiri dari satu input tombol dan arah. Kamu tidak perlu mulai melihat dan menghafal kombinasi tombol untuk mengeluarkan jurus tertentu dari satu karakter sebelum siap menggunakannya. Cukup pilih karakter manapun yang kamu suka, dan mulai mencoba atau memainkan karakter tersebut. Tidak ada yang perlu dihafal, dan inilah yang membuat Smash diproyeksikan sebagai party game.

Konsep ini memungkinkan aksesibilitas yang lebih mudah ke semua pemain, tapi juga membuka kemungkinan yang sangat luas. Karena perbedaan lontaran akibat persentase darah lawan, Combo tidak terbentuk dari formula yang pasti dan lebih bergantung pada improvisasi, kreativitas, kecepatan reaksi, dan presisi pemain on-the-spot.

Show Me Your Moves

Diantara empat versi Smash, Melee adalah yang paling cepat dan teknis. Kalau kamu tidak percaya, coba perhatikan video di atas. Itu bukan button mashing dari pemain sembarangan, tapi input dari Westballz, salah satu pemain top Melee sekarang ini.

Karena kecepatannya, Melee menuntut kreativitas dan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan versi lainnya. Ini membuat Melee lebih menantang sekaligus menyenangkan buat pemain yang serius dan kompetitif, dan tentunya rewarding. Mereka yang jago, lebih kreatif, dan lebih cepat, akan berpeluang besar untuk menang dibanding mereka yang kurang jago.

Di sisi lain, untuk penonton, Melee adalah sebuah tontonan yang sangat menyenangkan. Cepat, kreatif, dan tidak pernah bisa ditebak. Dua pertandingan antara dua orang yang sama dengan karakter yang sama bahkan bisa memperlihatkan situasi, alur permainan, combo, dan hype yang berbeda. Melee tidak pernah membosankan untuk ditonton, karena tiap permainan adalah cerita yang berbeda.

Tapi satu hal yang penting adalah, kamu tidak perlu tahu banyak tentang game fighting ataupun Melee, bahkan Smash, untuk benar-benar paham keseruan Melee, terutama di level tinggi. Saya sendiri sampai sekarang tidak pernah memainkan Melee, dan saya selalu tertarik untuk menonton pertandingan Melee, apalagi pertandingan turnamen besar. Karena sekali lagi, Smash adalah game yang sederhana, dan kamu bisa menyaksikan tiap momennya di level perspektif manapun, mau itu pemula ataupun pemain Melee yang hardcore.

Misalnya, di video di atas, ketika pertama kali menyaksikannya, saya terkesan hanya melihat Pikachu bisa menang TELAK hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Tapi setelah mengerti dinamika Smash, saya lebih terkesan lagi melihat bagaimana Axe, pemain Pikachu, bisa melakukan edge-guard yang sama empat kali berturut-turut dengan sempurna, membuat lawannya jatuh dari “panggung” tanpa memberikannya kesempatan untuk kembali. Satu momen yang sama, tapi dengan level perspektif yang berbeda.

Panggung Penuh Drama

cerita-di-balik-super-smash-bros-melee-1
Sumber

Di balik semua hal-hal keren yang terjadi di game ini, pemeran utamanya tetaplah mereka yang ada di balik semua itu: para pemainnya. Merekalah yang menjadi pusat dan inti cerita dari dunia Melee. Dan cerita yang mereka perlihatkan bukan cuma di dalam game, tapi juga di luar game itu sendiri.

Kebanyakan pemain profesional di Melee mulai bermain dengan alasan yang mungkin sering kamu lihat di wawancara pemain esports pada umumnya. Mereka suka dengan Smash dan Nintendo. Di saat yang sama, mereka ingin menjadi semakin jago, mengalahkan pemain yang lain, dan jadi pemain terbaik. Karena ambisinya, masing-masing pemain kemudian berusaha untuk menemukan trik, combo, dan cara bermain baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Tujuannya tentu untuk mengalahkan lawannya.

Ambisi dan dedikasi untuk menjadi lebih baik ini berujung pada munculnya berbagai macam trik baru yang kemudian menjadi standar di dunia kompetitif Melee (misal wavedashing, pivoting, dan L-Cancel). Bukan cuma itu, ada juga pemain yang menemukan combo baru atau cara baru dalam memainkan satu karakter. Semua orang berlomba untuk menjadi lebih baik dan saling mengalahkan, yang berujung ke cerita baru, dan perubahan pada metagame Melee itu sendiri.

Ada sangat banyak cerita dan narasi pemain yang menarik untuk disimak sepanjang sejarah Melee. Ayo ambil beberapa diantaranya.

cerita-di-balik-super-smash-bros-melee-11
Sumber

Selama bertahun-tahun, turnamen besar Melee dikuasai oleh lima pemain yang sering disebut sebagai Five Gods. Mereka adalah Mew2King, Mango, HungryBox, PPMD, dan Armada. Selama beberapa tahun, hampir tidak ada pemain yang bisa mengalahkan mereka di turnamen. Satu-satunya yang bisa mengalahkan mereka adalah, well, salah satu dari “dewa” yang lain.

Tidak sampai kemudian Leffen mengalahkan mereka satu per satu di turnamen terpisah. Sejak saat itu, Leffen dijuluki sebagai God Slayer karena melakukan hal yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya. Tapi lebih dari itu, “prestasi” Leffen menyampaikan pesan dan cerita baru bahwa lima dewa ini bisa dikalahkan, optimisme ke sesama pemain bahwa mereka suatu hari juga bisa mengalahkan para dewa ini, dan ke penonton bahwa hal itu akan terjadi.

Lalu, ada juga pertandingan antara Amsa vs Mew2King. Melee adalah game yang tidak terlalu balance dan didominasi oleh empat atau lima karakter pemuncak tier list: Fox, Falco, Sheik, dan Marth, dan ada anggapan kalau ingin memenangkan turnamen, kamu mau tidak mau harus menggunakan satu dari karakter tersebut. Pemain-pemain top di dunia juga kebanyakan menggunakan karakter-karakter ini, dan Fox adalah yang paling populer karena dianggap paling kuat.

Amsa menggunakan Yoshi, salah satu karakter yang masuk dalam low-tier. Tapi, meskipun menghadapi salah satu “dewa” yang menggunakan karakter top-tier (Sheik kemudian Fox), Amsa bisa memenangkan pertandingan. Memang, itu cuma satu pertandingan, tapi itu cukup untuk mengatakan bahwa siapapun bisa menggunakan karakter manapun untuk menang, meskipun itu bukan karakter top-tier. Ini memberikan cerita tersendiri buat mereka yang suka menggunakan Yoshi, atau karakter non-top-tier lainnya.

Masih banyak lagi cerita-cerita dari pemain yang bisa kamu ikuti, mulai dari Axe yang mengejutkan semua orang dengan Pikachu, sampai HungryBox yang setelah bertahun-tahun akhirnya berdiri di puncak tertinggi dengan menjuarai EVO 2016. Dari banyak cerita ini, akan ada paling tidak satu yang menarik perhatianmu, atau bahkan menyentuhmu secara emosional, terutama kalau kamu sudah sangat tertarik dengan dunia kompetitif Melee.

Saya sering mengatakan ke orang bahwa yang membuat esports menarik bukan cuma kualitas permainannya saja, tapi juga cerita para pemain yang ada di balik permainan tersebut. Selama 15 tahun, Melee sepertinya tidak pernah kehabisan cerita untuk melengkapi gameplay-nya yang terus berubah. Semuanya berkat para pemainnya sendiri.

Melee Sendiri adalah Salah Satu Aktornya

Tapi, yang membuat Melee kaya akan cerita bukan cuma pemainnya. Super Smash Bros. Melee itu sendiri juga punya banyak cerita menarik sepanjang 15 tahun perjalanannya.

cerita-di-balik-super-smash-bros-melee-8
Sumber

Seperti yang saya sebutkan di atas, Smash, tidak terkecuali Melee, adalah party game yang harusnya dimainkan bersama-sama dengan teman dan keluarga. Karena itu juga game ini punya mode empat pemain. Nintendo sendiri bukanlah Blizzard atau Riot yang mendukung dan menyokong game buatan mereka ke arah esports dan mengadakan turnamen resmi. Nintendo sama sekali tidak pernah berniat untuk membawa Melee ke arah esports, dan hampir tidak pernah terlibat dalam turnamen Smash sama sekali hingga hari ini.

Tapi itu tidak menghentikan para pemainnya untuk berkompetisi. Dengan segala keterbatasannya di tahun 2000-an, pemain-pemain yang cinta dan punya dedikasi tinggi pada Melee mulai mengadakan turnamen seadanya, di rumah atau basement teman, aula sekolah, atau tempat manapun yang dirasa memungkinkan. Hadiah yang diperebutkan juga tidak seberapa, dan kadang rasa bangga dan harga diri karena bisa menjadi juara punya harga yang lebih tinggi daripada hadiah uangnya sendiri.

Tapi itu tidak membuat mereka berhenti. Semakin lama, semakin banyak pemain yang mendedikasikan waktunya untuk berkompetisi dan membuat kompetisi itu sendiri, sekali lagi, dengan setup yang jauh dari megah seperti esports yang kita lihat sekarang ini. Tapi, dulu, itulah satu-satunya cara agar sebuah game bisa menjadi kompetitif. Melee, adalah sebuah cerita lengkap bagaimana sebuah esports bisa tumbuh sebelum kemudian mulai menjadi tren di tahun 2011.

Dari situ, cerita tentang Melee sudah mulai bergulir. Pemain-pemain yang jago seperti Ken, Azen, PC Chris, dan Isai mulai terlihat, mendominasi turnamen, dan menjadi pusat dari berbagai cerita di masa awal dunia kompetitif Melee. Di tahun 2004, Melee akhirnya mendapat sorotan dan dipertandingkan di panggung besar seperti MLG, dan puncaknya di EVO di tahun 2007.

cerita-di-balik-super-smash-bros-melee-6
Sumber

Tapi setelah itu, Melee kemudian hilang dari sorotan. Hadirnya sekuel baru, Super Smash Bros. Brawl untuk konsol Nintendo yang baru, Nintendo Wii, di tahun 2008 membuat banyak pemain yang move on ke judul baru tersebut. Imbasnya, selama setahun, tidak ada satupun turnamen Melee yang diadakan, karena penyelenggara turnamen besar lebih memilih untuk mempertandingkan Brawl di turnamen mereka, termasuk di EVO. Banyak orang yang menyebut masa ini sebagai “Dark Age” bagi Melee.

Tapi, mereka yang memang sangat mencintai Melee tidak pernah berhenti bermain, dan selalu mencari cara untuk menghidupkan kembali Melee. Dari tahun 2009, mereka kembali ke asal mereka, turnamen kecil di basement dan ruangan luas manapun, sambil selalu berusaha untuk berbenah dan memanggil kembali nama-nama besar di Melee.

Meskipun tidak semuanya, tapi makin banyak pemain yang kemudian kembali ke Melee karena mereka sebenarnya masih mencintai game ini dan secara pribadi tidak begitu menyukai gameplay Brawl. Beberapa penyelenggara turnamen seperti Genesis dan Pound kemudian kembali mengadakan turnamen Melee. The game stays, because they chose too.

Momen puncak yang membuat Melee kemudian muncul kembali ke permukaan adalah tahun 2013. EVO punya satu slot cabang game untuk diperebutkan oleh banyak game. Untuk menentukan pemenangnya, pihak EVO mengadakan kontes donasi amal untuk Breast Cancer Research Foundation. Aturannya sederhana: komunitas yang berhasil mengumpulkan dana terbanyak akan mendapatkan satu slot terakhir tersebut, sementara dananya akan didonasikan sepenuhnya.

Komunitas Melee yang seolah menunggu momen untuk bangkit langsung dipersatukan. Diprakarsai oleh program podcast Melee It On Me, komunitas Melee bersamaan menyumbangkan donasinya dalam waktu singkat di malam terakhir donasi, membuat sesuatu yang kemudian disebut sebagai Spirit Bomb. Semuanya seolah ingin memperlihatkan bahwa ”we’re here, and we matter”. Hasilnya, Melee berhasil mengumpulkan hampir US$ 95.000, jauh mengungguli Skullgirls yang hanya mengumpulkan US$ 78.000. Melee hadir di EVO 2013, ajang game fighting terbesar di seluruh dunia.

Tapi ceritanya tidak berhenti sampai di sana. Atas alasan apapun, Nintendo kemudian mengatakan bahwa pihak EVO dilarang untuk melakukan streaming untuk Melee. Keputusan ini tentunya menuai kecaman dari komunitas Melee. Melee It On Me kemudian mewakili kekecewaan komunitas melalui penyampaian yang lebih “diplomatis”, dan akhirnya Nintendo membatalkan kebijakan mereka tersebut. Melee tetap bisa disaksikan oleh siapapun, dan malah mendapatkan exposure yang lebih besar dari sebelumnya.

Sejak EVO 2013, dunia kompetitif Melee kemudian terus berkembang dan berbenah. Dari tahun ke tahun, popularitas dunia kompetitif Melee menarik semakin banyak perhatian sampai hari ini bisa menjadi salah satu game fighting paling populer.


cerita-di-balik-super-smash-bros-melee-4
Sumber

Saya jarang menyukai game fighting atau game yang belum pernah saya mainkan sebelumnya. Apalagi mayoritas komunitas dan pemain Melee sendiri juga berasal dari Amerika Serikat. Tapi buat saya sendiri, Melee feels special. Ada banyak sisi yang membuat saya sangat suka dengan game ini.

Sebagai gamer, saya suka dengan gameplay-nya yang fluid, sangat cepat, kreatif, dan sulit ditebak. Sebagai penulis konten yang punya sedikit pengalaman marketing, melihat bagaimana sebuah komunitas, audience, dan audience sebuah game berkembang secara organik adalah hal yang luar biasa. Kemudian saya juga belajar, bahwa sebuah game tidak akan pernah mati kalau pemainnya memang ingin game itu masih hidup.

Sebagai orang yang suka dengan esports, saya suka melihat bagaimana Melee berkembang menjadi esports melalui metode tradisional, bahkan hingga hari ini. Lalu, sebagai manusia yang punya sisi emosional, ada banyak cerita dan narasi dari Melee yang jujur, membuat saya terharu ketika menyimaknya. Dan jujur saja, saya sempat beberapa kali menitikkan air mata ketika menulis beberapa bagian dalam artikel ini :’)

Selama 15 tahun sejak pertama kali dirilis, Melee sudah bukan lagi sebuah game. Melee adalah sebuah panggung. Sebuah buku yang penuh berbagai macam cerita perjuangan, kerja keras, kekecewaan, konflik, dan yang paling penting what it feels like menjadi yang terbaik. Hingga hari ini, Melee terus hidup, terus menulis cerita baru dalam bukunya, yang nantinya akan terus saya baca dan ceritakan ke semua orang di kemudian hari.

Advertisements